pancasila sebagai pandangan hidup bangsa

BAB I

Pendahuluan

  1. A.    Latar Belakang

Pada hakikatnya pancasila mengandung dua pengertian, sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia dan sebagai dasar negara Republik Indonesia. dari kedua pengertian pokok ini kemudian dilahirkan atau dapat ditarik berbagai pengertian-pengertian lainnya. dari berbagai pengajaran pancasila sering disebutkan bahwa pancasila telah ada atau lahir bersamaan dengan adanya lahirnya Bangsa Indonesia.

Bahwa pancasila berasal dari jiwa dan karakter dari masyarakat Indonesia itu sendiri, sebelum adanya negara ataupun jauh sebelum ada kerajaan – kerajaan yang tada di Indonesia masyarakat Indonesia telah menunjukan ciri-ciri, tingkahlaku yang mencerminkan penjiwaan atas sila-sila pancasila, seperti adanya kepercayaan manusia terhadap kepercayaan gaib, baik berupa pemujaan terhadap roh-roh halus yang bercirikan animism-dinamisme, maupun kehidupan masyarakat Indonesia yang penuh dengan toleransi dan damai, tolong-menolong dan gotongroyong, bermusyawarah atau rembugan bagi terwujudnya kondisi kehidupan yang aman, tentram dan sejahtera dalam suasana kekeluargaan, yang di unfkapkan dalam istilah gemah ripah loh jinawi tata tenteram kerta raharja, atau yang kini pouler dengan sebutan adil dan makmur berdasarkan pancasila.

Selain pada itu dalam kitab sutasoma terdapat semboyan Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrua yang mengandung arti kehidupan agama itu kelihatannya berbeda bentuk atau sifatnya namun pada hakikatnya satu jau, yang kemudian menjadi motto lambing negara kita, yakni Bhineka Tunggal Ika.

Hal tersebut mencerminkan keluhuran budaya bangsa Indonesia pada saat itu, yang dipresepsikan dengan adanya toleransi kehidupan beragama antara anama Budha dengan Hindu.

Sehingga hal tersebutpun kini semakain berkembang dengan adanya sila pertama yaitu ketuhanan Yang Maha Esa. Begitupula dengan sila-sila yanglain yang mencerminkan karakter bangsa Indonesia. Oleh sebab itu sangat menarik untuk membahas mengenai pancasila sebagai pandangan hidup dari bangsa Indonesia, pandangan hidup tersebutpun tercermin didalam pembukaan UUD 1945.

  1. B.     Rumusan Masalah

Adapun rumusan maslah dari makalah ini yaitu :

1. apa itu dengan pancasila?

2. apa yang dimaksud dengan bangsa?

3. apa yang dimaksud pancasila sebagai pandangan hidup bangsa?

  1. C.    Ruang Lingkup

Adapun runglingkup dari makalah ini yaitu pengertian pancasila, pengertian bangsa dan pancasila sebagai pandangan hidup bangsa.

  1. D.    Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dri ditulisnya makalh ini yaitu:

1. memahami apa itu dengan pancasila

2. lebih mengerti apa yang dimaksud dengan bangsa

3. memahami apa yang dimaksud pancasila sebagai pandangan hidup bangsa.

BAB II

Pembahasan

  1. A.    Pengertian Pancasila

Panca Sila oleh Soekarno yang dikemukakan pada tanggal 1 Juni 1945. Sukarno mengemukakan dasar-dasar sebagai berikut: Kebangsaan; Internasionalisme; Mufakat, dasar perwakilan, dasar permusyawaratan; Kesejahteraan; Ketuhanan. Nama Pancasila itu diucapkan oleh Soekarno dalam pidatonya pada tanggal 1 Juni itu, katanya:

Sekarang banyaknya prinsip: kebangsaan, internasionalisme, mufakat, kesejahteraan, dan ketuhanan, lima bilangannya. Namanya bukan Panca Dharma, tetapi saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa – namanya ialah Pancasila. Sila artinya azas atau dasar, dan diatas kelima dasar itulah kita mendirikan negara Indonesia, kekal dan abadi.

Secara harfiah pancasila dapat dijabarkan dalam dua kata, yaitu panca yang berarti lima, dan sila yang berarti dasar atau rangkaian kata tersebut bermakna lima dasar.

Istilah sila juga dapat diartikan sebagai aturan yang melatarbelakangi prilaku seseorang atau bangsa, kelakuan tau yang menurut adab(sopan santun), ahklak dan moral.

Pancasila artinya lima dasar atau lima asas yaitu nama dari dasar negara kita, Negara Republik Indonesia. Istilah Pancasila telah dikenal sejak zaman Majapahit pada abad XIV yang terdapat dalam buku Nagara Kertagama karangan Mpu Prapanca dan buku Sutasoma karangan Mpu Tantular, dalam buku Sutasoma ini, selain mempunyai arti “Berbatu sendi yang lima” (dari bahasa Sangsekerta) Pancasila juga mempunyai arti “Pelaksanaan kesusilaan yang lima” (Pancasila Krama), yaitu sebagai berikut:

1. Tidak boleh melakukan kekerasan

2. Tidak boleh mencuri

3. Tidak boleh berjiwa dengki

4. Tidak boleh berbohong

5. Tidak boleh mabuk minuman keras   obat-obatan terlarang

Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945. sebagai dasar negara maka nilai-nilai kehidupan bernegara dan pemerintahan sejak saat itu haruslah berdasarkan pada Pancasila, namun berdasrkan kenyataan, nilai-nilai yang ada dalam Pancasila tersebut telah dipraktikan oleh nenek moyang bangsa Indonesia dan kita teruskan sampai sekarang.

Rumusan Pancasila yang dijadikan dasar negara Indonesia seperti tercantum

dalam pembukaan UUD 1945 adalah:

1. Ketuhanan Yang Maha Esa

2. Kemanusiaan yang adil dan beradab

3. Persatuan Indonesia

4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam

permusyawaratan   perwakilan

5. Keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia

  1. Pengertian bangsa

Untuk memeperoleh pengertian yang lebih  jelas tentang makna pandangan hidup bangsa, ada baiknya, teelebih dahulu ditarik pengertian tentang bangsa, yang dalam istilah asingnya disebut nation. Menurut Ernest Renan, seorang guru besar dan pujangga yang termasyur dari perancis, dalam pidatonya yang diucapkan di universitas Sorbonne(paris) tanggal 11 maret 1982 berjudul Qu’est ce qu’une nation (apakah bangsa itu) mengemukakan bangsa itu adalah soal perasaan, soal kehendak (tekad) semata-mata untuk hidup bersama yang timbul antara segolongan besar manusia yang nasibnya sama dalam masa yang lampau, terutama dalam penderitaan-penderitaan bersama. Dengan demikian bangsa adalah segelombolan manusia yang mau bersatu, dan merasa dirinya bersatu. Sedangkan Otto Bauer mengartikan bangsa adalah satu persatuan perangai yang timbul karena persatuan nasib.

Bangsa (nation) menurut Hans Kohn (Kaelan, 2002: 212-213) bahwa bangsa terbentuk oleh persamaan bahasa, ras, agama, peradaban, wilayah, negara dan kewarganegaraan. Meskipun dikalangan pakar kenegaraan belum terdapat persamaan pengertian bangsa, namun faktor objektif yang terpenting dari suatu Bangsa adalah kehendak atau kemauan bersama yang lebih dikenal dengan nasionalisme.

Fredrich Hertz dalam bukunya “Nationality in History and Politics” mengemukakan bahwa setiap bangsa mempunyai 4 (empat) unsur aspirasi sebagai berikut:

  1. Keinginan untuk mencapai kesatuan nasional yang terdiri atas kesatuan sosial, ekonomi, politik, agama, kebudayaan, komunikasi, dan solidaritas.
  2. Keinginan untuk mencapai kemerdekaan dan kebebasan nasional sepenuhnya, yaitu bebas dari dominasi dan campur tangan bangsa asing terhadap urusan dalam negerinya.
  3. Keinginan dalam kemandirian, keunggulan, individualisme, keaslian, atau kekhasan.
  4. Keinginan untuk menonjol (unggul) diantara bangsa-bangsa dalam mengejar kehormatan, pengaruh, dan prestise.

F. Ratzel (Jerman) adalah Bangsa terbetuk karena adanya hasrat bersatu. Hasrat itu timbul karena adanya rasa kesatuan antara manusia dan tempat tinggalnya (paham geopolitik).
Bangsa menurut Bung Karno Manusia yg menyatu dengan tanah airnya (persatuan antar orang dan tempat)

Bangsa Menurut Moh. Hatta Bangsa ditentukan oleh keinsafan sebagai suatu persekutuan yg tersusun jadi satu, yaitu keinsafan yg terbit karena percaya atas persamaan nasib dan tujuan. (keinsafan bertambah bertambah besar oleh karena; sama sepertuntungan, malang sama diderita, mujur yg sama didapat, oleh karena jasa bersama, kesengsaraan bersama dll)

Jadi dari definisi diatas, bangsa adalah suatu kelompok manusia yang memiliki karakteristik dan ciri yang sama (nama, budaya, adat), yang bertempat tinggal di suatu wilayah yang telah dikuasai nya atas sebuah persatuan yang timbul dari rasa nasionalisme serta rasa solidaritas dari sekumpulan manusia tersebut serta mengakui negaranya sebagai tanah airnya.

  1. Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia.

Arti pandangan hidup bagi sebuah bangsa

“Pandangan hidup suatu bangsa adalah suatu kristalisasi dari nilai-nilai yang dimiliki oleh bangsa itu sendiri, yang diyakini kebenarannya dan menimbulkan tekad pada bangsa itu untuk mewujudkannya”

Pandangan hidup ialah wawasan menyeluruh terhadap kehidupan, yang terdiri dari kesatuan rangkaian nilai-nilai luhur.

Pandangan Hidup adalah Konsep atau cara pandang manusia yang bersifat mendasar tentang diri dan dirinya. Pandangan hidup berarti pendapat atau pertimbangan yang dijadikan pegangan, pedoman, arahan, petunjuk hidup didunia. Pendapat atau pertimbangan itu merupakan hasil pemikiran manusia berdasarkan pengalaman sejarah berdasarkan waktu dan lingkungan hidupnya. Dengan demikian, pandangan hidup bukanlahtimbul seketika ataupun dalam waktu yang singkat, melain dalam waktu yang lama dan prses terus menerus sehingga hasil pemikiran tersebut dapat di uji kenyataannya, serta dapat diterima oleh akal dan diakui kebenarannya. Dan atas dasr tersebut manusia menerima hasil pemikiran itu sebagai pegangan, pedoman, arahan, atau petunjuk yang dapat disebut sebagi pandangan hidup.

Nilai luhur adalah tolak ukur kebaikan yang berkenaan dengan sifat-sifat yang mendasar dan abadi dalam kehidupan manusia.

Setiap bangsa yang ingin berdiri kokoh dan mengetahui dengan jelas kearah mana tujuan yang ingin dicapainya sangat memerlukan pandangan hidup.

Dalam pandangan hidup ini terkandung :

a. konsep mengenai kehidupan yang dicita-citakan oleh suatu bangsa.

b. pemikiran yang terdalam dan gagasan suatu bangsa mengenai wujud kehidupan yang dianggap baik.

c. suatu kristalisasi dari suatu nilai-nilai yang dimilki oleh bangsa itu sendiri yang diyakini kebenarannya dn menimbulkan tekad untuk mewujudkannya.

Manfaat pandangnan hidup suatu bangsa adalah:

Agar suatu bangsa berdiri kokoh dan mengetahui dengan jelas kearah mana tujuan yang ingin dicapainya.  Memiliki pegangan dan pedoman yang jelas bagi pemecahan maslah-masalah yang dicapainya. Memilki pedoman bagi suatu bangsa untuk membangun dirinya.

Dengan demikian pandangan hidup memilki fungsi sebagai kerangka acuan untuk menta kehidupan diri pribadi dan hibungan antara manusia dengan masyarakat dan alam sekitar. Pandangan hidup suatu bangsa itu bertindak secara dinamis sehingga mewujudkan pandangan hidup bangsa. Dengan demikian pandangan hidup bangsa itu bersumber dari pandan hidup manusia dan masyarakat dari bangsa yang bersangkutan.

Pancasila bagi kita merupakan pandangan hidup, kesadaran dan cita-cita moral yang meliputi kejiwaan dan watak yang sudah berurat-akar didalam kehidupan bangsa Indonesia.

Setiap bangsa di dunia yang ingin berdiri kokoh dan mengetahui dengan jelas ke arah mana tujuan yang ingin dicapainya sangat memerlukan pandangan hidup. Dengan pandangan hidup inilah suatu bangsa akan memandang persoalan yang dihadapinya sehingga dapat memecahkannya secara tepat. Tanpa memiliki pandangan hidup, suatu bangsa akan merasa terombang – ambing dalam menghadapi persoalan yang timbul, baik persoalan masyarakatnya sendiri maupun persoalan dunia.
Menurut Padmo Wahjono :

“Pandangan hidup adalah sebagai suatu prinsip atau asas yang mendasari segala jawaban terhadap pertanyaan dasar, untuk apa seseorang itu hidup”.
Jadi berdasarkan pengertian tersebut, dalam pandangan hidup bangsa terkandung konsepsi dasar mengenai kehidupan yang dicita – citakan, terkandung pula dasar pikiran terdalam dan gagasan mengenai wujud kehidupan yang dianggap baik.
Pancasila sebagai pandangan hidup sering juga disebut way of life, pegangan hidup, pedoman hidup, pandangan dunia atau petunjuk hidup. Walaupun ada banyak istilah mengenai pengertian pandangan hidup tetapi pada dasarnya memiliki makna yang sama. Lebih lanjut Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa dipergunakan sebagai petunjuk dalam kehidupan sehari – hari masyarakat Indonesia baik dari segi sikap maupun prilaku haruslah selalu dijiwai oleh nilai – nilai luhur pancasila.
Hal ini sangat penting karena dengan menerapkan nilai – nilai luhur pancasila dalam kehidupan sehari – hari maka tata kehidupan yang harmonis diantara masyarakat Indonesia dapat terwujud. Untuk dapat mewujudkan semua itu maka masyarakat Indonesia tidak bisa hidup sendiri, mereka harus tetap mengadakan hubungan dengan masyarakat lain. Dengan begitu masing – masing pandangan hidup dapat beradaftasi artinya pandangan hidup perorangan   individu dapat beradaptasi dengan pandangan hidup kelompok karena pada dasarnya pancasila mengakui adanya kehidupan individu maupun kehidupan kelompok.

Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa tersebut terkandung di dalamnya konsepsi dasar mengenai kehidupan yang dicita-citakan. Terkandung dasar pikiran terdalam dan mengenai gagasan wujud kehidupan yang dianggap baik. Oleh karena Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa merupakan suatu kristalisarisasi dari nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat, maka pandangan hidup tersebut dijunjung tinggi oleh warganya karena pandangan hidup Pancasila berasal dari budaya dan pandangan hidup masyarakat yang sejak dahulu.

Dengan demikian, pandangan hidup Pancasila bagi bangsa Indonesia, yang Bhineka Tunggal Ika tersebut harus sebagai asas pemersatu bangsa. Sehingga tidak boleh mematikan keanekaragaman yang ada di dalam Negara Indonesia sendiri.

Sebagai inti sari dari nilai budaya Indonesia, maka Pancasila merupakan cita-cita moral bangsa yang memberikan pedoman dan kekuatan rohaniah bagi bangsa untuk berperilaku luhur dalam kehidupan sehari-hari, dalam masyarakat, berbangsa dan bernegara.
Pancasila dipahami sebagai pedoman, pegangan, dan petunjuk hidup. Pancasila sebagai pandangan hidup berarti:

1. Memberikan jawaban terhadap tantangan dan hambatan dalam mewujudkan kehidupan yang baik.

2. Konsep dasar kehidupan yang dicita-citakan bangsa Indonesia

3. Kristalisasi nilai yang diyakini kebenarannya oleh bangsa Indonesia dan menimbulkan tekad yang mewujudkannya.

Sebagai pandangan hidup, Pancasila menjadi arah semua kegiatan hidup. Pancasila terpancar dalam seluruh tingkah laku insan Indonesia.

Manfaat pancasila sebagai pandangan hidup adalah sebagai berikut :

1. Menjadikan bangsa Indonesia berdiri kokoh sebagai bangsa merdeka dan berdaulat.

2. Menjadi pedoman pemecahan permasalahan yang dihadapi.

3. Sebagai Pedoman Membangun dirinya sendiri dan hubungan dengan
bangsa lain.

Korelasi pandangan hidup dengan ideology

KETIKA Negara-bangsa tersusun, maka sebenarnya telah ada berbarengan dengan eksistensi negara itu suatu perjanjian bersama atau “Kontrak sosial”, sebagai kebulatan pikiran atau cita-cita dalam mendirikan Negara-bangsa tersebut. Perjanjian ini sebagai pengejawantahan dari kemauan bersama ( J.J. Rousseu : Volonte General ) untuk menyusun hidup bersama dalam wadah sebuah Negara-bangsa. Selanjutnya bagunan Negara-bangsa yang didirikan itu tegak diatas sebuah “Keyakinan kokoh bersama suatu Komunitas politik”, yang kemudian biasa disebut sebagai kepercayaan politik (Political belief) milik bersama seluruh warga Negara-bangsa, yang kemudian menjadi sebuah “Ideologi”.

Selanjutnya oleh perjalanan sejarah bangsa akan dijadikan landasan tidak bergerak yang tangguh sepanjang keberadaan Negara-bangsa tersebut dan sekaligus menjadi cita-cita yang harus diwujudkan dalam kehidupan nyata masa kini dan masa selanjutnya. Itulah sebabnya maka keyakinan politik itu akhirnya menjadi gagasan abadi untuk diaktualisasikan dalam kehidupan perpolitikan komunitas sebuah Negara-bangsa.

Kepercayaan politik adalah angan-angan atau lebih tegasnya merupakan “buah pikiran nasional” seluruh warga bangsa, hasil konsensual dari sebuah kontrak sosial dalam sejarah pendirian Negara-bangsa sejak awal, tentang jalan politik dunianya secara umum. Oleh karena itu kepercayaan politik, selain berisi nilai-nilai luhur yang diyakini bersifat abadi, juga merupakan realitas milik tertinggi idealisme bangsa menghadapi kenyataan hidup yang mengelilinginya. Kepercayaan tersebut setelah terbentuk akan terus operasional sepanjang masa.

Apabila kepercayaan politik lahir dari kultur politik rakyat sejak awal berdirinya Negara-bangsa, maka ideologi lahir dan kemudian berkembang dari kepercayaan politik yang terbentuk dari “Kemauan umum” perjanjian masyarakat sebagai keyakinan politik, yang selanjutnya akan menjadi dasar bagi terwujudnya mekanisme suatu sistem nilai dan norma dasar politik Negara-bangsa seterusnya, selaras dengan perkembangan zaman.

Konsep budaya politik merupakan keseluruhan perwujudan kegiatan kesadaran keyakinan atau kepercayaan politik yang terus berkembang oleh pengaruh dan dominasi ideologi dengan nilai-nilai abadi yang terkandung di dalamnya, yang secara dinamis terus berkembang selaras perkembangan waktu dan lingkungan yang mengelilinginya dan bisa saling mempengaruhi. Karena ideologi tidak hanya terhenti pada “Kumpulan Ideas” abstrak yang sangat berharga, tetapi akan terus mengembangkan diri selaras adaptasi lingkungan dan zaman, sehingga melahirkan “Sikap-sikap” masyarakat yang terus mengembangkan diri selaras adaptasi lingkungan dan zaman, sehingga melahirkan opini-opini yang lebih maju, tetapi juga mampu membangkitkan sikap dan watak yang dilandasi pandangan hidup secara ideologis, hal ini sejalan dengan bimbingan ideologi yang penuh dengan nilai luhur tersebut.

Disinilah letak relevansi dan korelasi “Pandangan hidup dengan Ideologi”. Selanjutnya pandangan hidup ini harus dikaitkan dengan kata-kata “Negara maupun Bangsa”, sebab manusia sebagai individu akan memiliki pandangan hidup yang bervariasi dengan spesifikasinya masing-masing, sesuai dengan latar belakang individunya, baik manyangkut famili, suku, ras, agama, kepentingan, budaya, tradisi, keturunan dan lain-lainya, yang bisa menjadi faktor pengaruh kuat terhadap pandangan hidup individual atau kelompok. Namun ketika mereka menjadi anggota tetap sebuah Negara-bangsa, individu yang telah diikat oleh “Volonte General” itu harus tunduk pada kristalisasi pandangan hidup yang telah terbentuk ideologi Negara-bangsa tersebut.

Dalam kehidupan bernegara-bangsa telah menjadi pengertian dan pengakuan secara universal, bahwa individu secara rasional maupun emosional akan tunduk kepada suara bersama yang sebenarnya telah mereka peroleh dan bangun secara demokratis. Demokrasi adalah realitas pluralistik, sedang setiap masyarakat pluralistik lazim akan mewajibkan setiap anggotanya untuk memiliki pedoman yang sama bagi pengaturan hidup bersama mereka yang disepakati, tanpa merugikan “apa yang menjadi latar belakang yang dimiliki masing-masing individu”, misalnya ketika sebuah prinsip “Berketuhanan” telah diterima dalam sebuah kontrak sosial, maka setiap individu anggota masyarakat atau warganegara-bangsa yang berasal dari agama apapun atau suku manapun akan menerima dengan lapang dada.

Mereka dengan penuh kesadaran loyal kepada prinsip kebersamaan, sedang spesifikasi atau aturan khusus keagamaannya sendiri atau kepercayaannya tidak akan terusik sedikit pun sebagai akibat penerimaannya sendiri atau kepercayaannya tidak akan terusik sedikit pun sebagai akibat penerimaannya tersebut, bahkan mereka akan merasa lebih terlindungi kebebasan praktik khusus keagamaannya maupun yang menjadi kepercayaannya. Maka pengakuan adanya Tuhan dan pengagungan akan eksistensi-Nya akhirnya bisa menjadi “Pandangan hidup bangsa”, dan pandangan hidup ini dapat dipertanggung-jawabkan kepada siapa pun. Pandangan hidup ini tegak tidak dapat ditawar-tawar lagi sekaligus memberikan kepuasan pada pluralisme masyarakat.

Pandangan hidup merupakan manifestasi identitas dan kepribadian:

Berbicara tentang ideologi yang menjadi rujukan pandangan hidup Negara-bangsa, Prof. Dr. William T. Bluhm PhD, guru besar dalam Political Science pada Chicago University, dalam bukunya Modern Political “Idologies and Attitudes” (Culture ), melihat ada 4 (empat) teori mengenai Ideologi :

(1). TEORI KEPENTINGAN : Bahwa ideologi itu bersifat kejiwaan yang bisa diselidiki dan dijelaskan. Ideas yang terbentuk sebagai akibat realitas sekitar manusia. Manusia yang berakal bisa menggunakan reason untuk menciptakan hidupnya dengan memanipulasi realitas dunia yang ada d sekitarnya. Maka ideologi harus dipandang sebagai rasionalisaasi “Kepentingan” yang mungkin juga bersifat irrasional. Alatnya ialah politik

(2). TEORI KEBENARAN : Dr. Blim dalam hal ini mengikuti pandangan filosuf wanita Hanna Arendt tentang aktivitas manusia di dunia yang merefleksikan ideologi, yakni untuk menjalankan proses kehidupan. Ideologi kemudian muncul secara rasional dan bebas, yang ingin mewujudkan hakekat “Kebenaran”. Sehingga apabila hakekat kebenaran yang lahir dari ideologi ini direalisasikan, maka hasilnya adalah “Perubahan sosial politik maupun ekonomi yang diinginkan”, artinya kebenaran dapat diwujudkan oleh usaha politik.

(3). TEORI KESULITAN SOSIAL : Ideologi lahir dari hal-hal yang tidak disadari, sebagai pola jawaban terhadap kesulitan-kesulitan yang timbul dari masyarakat. Kesulitan tersebut sebagai pathologi yang memerlukan obat dan penyembuhan, maka fungsi ideologi adalah remedial atau kuratif.

(4). TEORI KESULITAN KULTURAL : Ideologi timbul karena hal-hal yang menyangkut hubungan perasaan dan arti hidup (Sentiment and Meaning). Kedudukan ideologi sama seperti ilmu pengetahuan teknologi, agama dan filsafat. Akibat selalu ada dislokasi sosial dan kultural dalam kehidupan manusia, maka manusia memerlukan arti hidup yang baru dan segar. Ideologi mencoba menjawab dengan pikiran-pikiran yang segar yang membumi, berisi kebijakan dan prinsip dasar, otoritas tertentu maupun teologi yang jelas. Dari sana disusunlah program-program maupun platforms yang praktis, bisa pula disusun blueprint membangun autonomous politoics, akhirnya membekali otoritas politik dengan konsep-konsep politik yang tepat.

Dari empat teori terbentuknya ideologi Bluhm tersebut (Kepentingan, Kebenaran, Kesulitan sosial dan Kesulitan kultural ), maka pandangan hidup sebagai follow-up ideologi akhirnya juga harus mampu menghadapi 4 (empat) masalah besar kemanusiaan itu, yakni : (1) Mampu mengatasi kepentingan kehidupannya, (2) Menciptakan pandangan hidup yang berisi kebenaran yang diaktulasasikan (3) Menghilangkan semua kesulitan sosial, dan (4) Menghapuskan semuan keruwetan kultural melalui otoritas politik yang kuat.

Upaya aktualisasi ideologi melalui kegiatan pandangan hidup itu akhirnya akan mampu menciptakan “Jati diri Bangsa” yang berupa identitas dan kepribadian, sebagai manifestasi ideologi yang telah berakar kuat menjadi “Pandangan hidup”. Pandangan hidup yang dalam istilah Jerman adalah “Weltanschauung” atau pandangan manusia tentang dunia yang mengelilinginya, yang dalam berbangsa dan bernegara merupakan perlengkapan diri atau senjata ampuh bermata dua, yakni

(1) Senjata tajam untuk bisa memenuhi seluruh kepentingan manusia hidup di dunia yang serba langka, dan sekaligus juga (2) Sebagai alat canggih untuk mencapai ekspresi kebenaran dalam menghadapi realitas khidupan duniawi. Oleh karenanya ideologi bangsa menjelma menjadi pandangan hidup tadi akan selalu mengalami “transformasi” kearah yang lebih ideal dan mengarah kepada kesempurnaan. Sebagai pandangan hidup maka idealismenya akan selalu memberikan “pengetahuan obyektif” tentang otoritas politik atau pandangan otonom mengatasi berbagai masalah, bagaimanapun ruwet dan komplikasinya.

Dalam hubungan ini pemikir terkenal Alfred North Whitehead dalam essaynya yang berjudul “Adventures of Ideas” (New York, Mc Millon, 1933 ) mengemukakan adanya teori “distorsi” dalam manulis sejarah bangsa-bangsa, akan selalu ada penyimpangan atau bentuk yang tidak normal, karena sipenulis akan terpengaruh oleh pandangan hidupnya sendiri yang diyakini kebenaranya, kemudian diwujudkan dalam bentuk kritisisme dan penilaian fakta tertentu. Demikian juga “Pemikiran atau Ideas” yang dilahirkan oleh sebuah ideologi, yang selalu lahir dari sejarah sebuah bangsa, adalah akan tetap terperangkap oleh “Intellectual stand point” atau titik pandang pendidian intelektual bangsa ketika ideologi maupun pandangan hidup akan tetap terdistorsi oleh pandangan-pandangan yang hidup dari komunitas politik terutama para elitenya, walaupun distorsi disini tidak harus “berarti negatif”, tetapi justru lebih banyak arah “positif dan korrelatifbta” menuju perfeksi.

Hampir senada dengan itu, Prof. Robert Dahl, sebagai yang dikutip William E, Connolly dalam “Political Science and Ideology” (New York 1967), berpendapat, bahwa nilai yang lahir dari sebuah idea yang ditulis para ahli dalam “Kerangka konsensual” sering harus dibungkus oleh sebuah “Rhetorika” atau “balaghoh” ( yakni seni penyusunan kalimat yang memiliki tujuan terntentu yang mulia ). Rhetorika tersebut oleh Prof. Dahl lebih ditegaskan sebagai “Consensual Rhetoric”, sebagai representasi asli tentang sesuatu masalah, ialah sebuah produk masyarakat “secara kollektif”, dan akhirnya bisa menyelimuti seluruh proses sistem politik selanjutnya.

Baik teori distorsinya Whitehead maupun rhetrorikanya Dahl beranggapan tentang arti pentingnya ideas yang dimissikan oleh ideologi sebagai hasil kollektif konsensual yang bernilai luhur. Ketika kumpulan pemikiran itu bergerak aktif dalam sikap dan tingkah laku komunitas politik, yakni bangsa dalam perjalanan sejarah panjangnya, maka “Consensual rhetoric” akan terus hidup dinamis dan terbuka luas untuk masukan atau penafsiran baru, mengisi sejarah negara-bangsa untuk selamanya.

Untuk lebih memperjelas obyektivitas produk politik dari sebuah ideologi yang berkembang, bapak sosiologi Karl Mannheim menyimpulkan bahwa semua “Political thinking” termasuk di dalamnya apa yang disebut ideologi atau pendangan politik suatu bangsa akan selalu “Relational” artinya terkait erat antara “kepentingan dan situasi lingkungan para pemikir, ketika ideologi tersebut terbentuk. ideologi karenanya sebagai gambaran mungkin tidak sempurna tentang realitas itu. Hanya yang menjadi opposant yang bisa memberikan gambaran distorsi yang ada pada pandangan ideologis. Oleh karena itu dalam masyarakat liberal berkembang adanya kelompok cendikiawan yang “free floating” (freischweben), yang merasa tidak terikat lagi pada kelompok terntentu atau tatanan tertentu yang sudah established. Para floaters ini kemudian menghindar dari konflik politik yang sering muncul dalam kehidupan demokrasi. Namun apabila secara obyektif kultur politik suatu bangsa dimonitor secara teliti, maka tidak jarang ditemukan bahwa ideologi bisa mempunyai arti aslinya yang ilmiah dan tidak sedikitpun terdistorsi oleh kepentingan atau otoritas politik tertentu. ( Karl Mannheim, Ideology and Utopian, An Introduction to Ideology of Knowledge, New York, 1936, translation L. Wirth and E. Shil. )

BAB II

Penutup

A. Kesimpulan

  • Secara harfiah pancasila dapat dijabarkan dalam dua kata, yaitu panca yang berarti lima, dan sila yang berarti dasar atau rangkaian kata tersebut bermakna lima dasar.
  • Istilah sila juga dapat diartikan sebagai aturan yang melatarbelakangi prilaku seseorang atau bangsa, kelakuan tau yang menurut adab(sopan santun), ahklak dan moral.
  • Pancasila artinya lima dasar atau lima asas yaitu nama dari dasar negara kita, Negara Republik Indonesia.
  • Menurut Ernest Renan bangsa adalah segelombolan manusia yang mau bersatu, dan merasa dirinya bersatu. Sedangkan Otto Bauer mengartikan bangsa adalah satu persatuan perangai yang timbul karena persatuan nasib
  • menurut Hans Kohn bahwa bangsa terbentuk oleh persamaan bahasa, ras, agama, peradaban, wilayah, negara dan kewarganegaraan.
  • Fredrich Hertz dalam bukunya “Nationality in History and Politics” mengemukakan bahwa setiap bangsa mempunyai 4 (empat) unsur aspirasi sebagai berikut:

1.  Keinginan untuk mencapai kesatuan nasional yang terdiri atas kesatuan sosial, ekonomi, politik, agama, kebudayaan, komunikasi, dan solidaritas.

2.  Keinginan untuk mencapai kemerdekaan dan kebebasan nasional sepenuhnya, yaitu bebas dari dominasi dan campur tangan bangsa asing terhadap urusan dalam negerinya.

3.  Keinginan dalam kemandirian, keunggulan, individualisme, keaslian, atau kekhasan.

4.  Keinginan untuk menonjol (unggul) diantara bangsa-bangsa dalam mengejar kehormatan, pengaruh, dan prestise.

  • F. Ratzel (Jerman) adalah Bangsa terbetuk karena adanya hasrat bersatu. Hasrat itu timbul karena adanya rasa kesatuan antara manusia dan tempat tinggalnya (paham geopolitik).
  • Bangsa menurut Bung Karno Manusia yg menyatu dengan tanah airnya (persatuan antar orang dan tempat)
  • Bangsa Menurut Moh. Hatta Bangsa ditentukan oleh keinsafan sebagai suatu persekutuan yg tersusun jadi satu, yaitu keinsafan yg terbit karena percaya atas persamaan nasib dan tujuan. (keinsafan bertambah bertambah besar oleh karena; sama sepertuntungan, malang sama diderita, mujur yg sama didapat, oleh karena jasa bersama, kesengsaraan bersama dll)
  • Jadi dari definisi diatas, bangsa adalah suatu kelompok manusia yang memiliki karakteristik dan ciri yang sama (nama, budaya, adat), yang bertempat tinggal di suatu wilayah yang telah dikuasai nya atas sebuah persatuan yang timbul dari rasa nasionalisme serta rasa solidaritas dari sekumpulan manusia tersebut serta mengakui negaranya sebagai tanah airnya.
  • “Pandangan hidup suatu bangsa adalah suatu kristalisasi dari nilai-nilai yang dimiliki oleh bangsa itu sendiri, yang diyakini kebenarannya dan menimbulkan tekad pada bangsa itu untuk mewujudkannya”
  • Pandangan hidup ialah wawasan menyeluruh terhadap kehidupan, yang terdiri dari kesatuan rangkaian nilai-nilai luhur.
    • Pandangan Hidup adalah Konsep atau cara pandang manusia yang bersifat mendasar tentang diri dan dirinya. Pandangan hidup berarti pendapat atau pertimbangan yang dijadikan pegangan, pedoman, arahan, petunjuk hidup didunia.
    • Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa dipergunakan sebagai petunjuk dalam kehidupan sehari – hari masyarakat Indonesia baik dari segi sikap maupun prilaku haruslah selalu dijiwai oleh nilai – nilai luhur pancasila.
    • Hal ini sangat penting karena dengan menerapkan nilai – nilai luhur pancasila dalam kehidupan sehari – hari maka tata kehidupan yang harmonis diantara masyarakat Indonesia dapat terwujud.
    • 1. Memberikan jawaban terhadap tantangan dan hambatan dalam mewujudkan kehidupan yang baik.
    • 2. Konsep dasar kehidupan yang dicita-citakan bangsa Indonesia
    • 3. Kristalisasi nilai yang diyakini kebenarannya oleh bangsa Indonesia dan menimbulkan tekad yang mewujudkannya.
    • Manfaat pancasila sebagai pandangan hidup adalah sebagai berikut :
    • 1. Menjadikan bangsa Indonesia berdiri kokoh sebagai bangsa merdeka dan berdaulat.
    • 2. Menjadi pedoman pemecahan permasalahan yang dihadapi.
    • 3. Sebagai Pedoman Membangun dirinya sendiri dan hubungan dengan
      bangsa lain.

B. Saran

Pancasila merupakan pedoman hidup yang digunakan oleh bangsa Indonesia karena pancasila berasal dari diri bangsa Indonesia itu sendiri. Untuk mewujudkan masyarakat yang sesuai dengan cita-cita bangsa maka pancasila sebagai pedoman hidup bangsa harus dapat diterapkan dengan baik, yaitu dengan cara mengembalikan karakter bangsa Indonesia yang saat ini sudah melenceng jauh dari pancasila. Pengembalian tersebut memang tidak mudah membutuhkan dukungan dari banyak pihak baik itu pemerintah, keinginan dari masyarakat dan pendidikan.

Daftar Pustaka

Al marsudi, subandi.2001. Pancasila dan UUD’45 dalam paradigm reformasi edisi revisi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Zurnelly.2010.filsafat pancasila.jakarta: laboratorium sosial politik press.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s